Hanaast's Blog


PARADIGMA KEBIDANAN
Oktober 8, 2009, 2:04 am
Filed under: KONSEP KEBIDANAN

Paradigma Kebidanan adalah suatu cara pandang bidan dalam memberikan pelayanan. Keberhasilan pelayanan tersebut dipengaruhi oleh pengetahuan dan cara pandang bidan dalam kaitan atau hubungan timbal balik antara manusia/wanita, lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan/kebidanan dan keturunan.

  1. Wanita

Wanita /manusia adalah mahluk bio-psiko-sosial-kultural dan spritual yang utuh dan unik, mempunyai kebutuhan dasar yang bermacam-macam sesuai dengan tingkat perkembangannya. Wanita/ibu adalah penerus generasi keluarga dan bangsa sehingga keberadaan wanita yang sehat jasmani dan rohani serta sosial sangat diperlukan. Wanita/ibu adalah pendidik pertama dan utama dalam keluarga. Kualitas manusia sangat ditentukan oleh keberadaan/kondisi dari wanita/ibu dalamkeluarga. Para wanita di masyarakat adalah penggerak dan pelopor dari peningkatan kesejahteraan keluarga.

  1. Lingkungan

Lingkungan merupakan semua yang ada dilingkungan dan terlibat dalam interaksi individu pada waktu melaksanakan aktifitasnya. Lingkungan tersebut meliputi lingkungan fisik, lingkungan psikososial, lingkungan biologis dan lingkungan budaya. Lingkungan psiko sosial meliputi keluarga, kelompok, komuniti maupun masyarakat. Ibu selalu terlibat dalam interaksi antara keluarga, kelompok, komuniti maupun masyarakat. Masyarakat merupakan kelompok yang paling penting dan kompoleks yang telah dibentuk manusia sebagai lingkungan sosial. Masyarakat adalah lingkungan pergaulan hidup manusia yang terdiri dari individu, keluarga kelompok dan komuniti yang mempunyai tujuan dan sistem nilai, ibu/wanita merupakan bagian dari anggota keluarga dan unit dari komuniti.

Keluarga mencakup sekelompok individu yang berhubungan erat secara terus menerus terjadi interaksi satu sama lain baik secara perorangan maupun secara bersama-sama. Keluarga dalam fungsinya mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia berada. Keluarga dapat nmenunjang kebutuhan sehari-hari dan memberikan dukungan emosional kepada ibu yang sedang hamil, melahirkan dan nifas. Keadaan sosial ekonomi, pendidikan, kebudayaan dan lokasi tempat tinggal keluarga sangat menentukan derajat kesehatan ibu hamil, melahirkan dan nifas

  1. Perilaku

Perilaku merupakan hasil dari berbagai pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahua sikap dan tindakan. Perilaku manusia bersifat menyeluruh (holistik).

Perilaku ibu selama kehamilan akan mempengaruhi kehamilan, perilaku ibu dalam mencari penolong persalinan akan mempengaruhi kesejahteraan ibu dan janin yang dilahirkan. Demikian pula ibu pada masa nifas akan mempengaruhi kesehatan ibu dan bayinya.

Adapun perilaku propesional dari bidan mencakup ;

  • Dalam melaksanakan tugasnya berpegang teguh pada filosofi, etika profesi dan aspek legal
  • Bertanggung jawab dan mempertanggung jawabkan keputusan klinis yang dibuatnya
  • Senantiasa mengikuti perkembangan pengetahuan dan keterampilan mutakhir secara berkala
  • Menggunakan cara pencegahan universal untuk mencegah penularan penyakit dan strategi pengendalian infeksi
  • Menggunakan konsultasi dan rujukan yang tepat selama memberikan asuhan kebidanan
  • Menghargai dan memanfaatkan budaya setempat sehubungan dengan praktek kesehatan, kehamilan, kelahiran, periode pasca persalinan, bayi baru lahir dan anak
  • Menggunakan model kemitraan dalam bekerja sama dengan kaum wanita/ibu agar mereka dapat menentukan pilihan yang telah diinformasikan tentang semua aspek asuhan, meminta persetujuan secara tertulis supaya mereka bertanggung jawab atas kesehatannya sendiri
  • Menggunakan keterampilan komunikasi
  • Bekerjasama dengan petugas kesehatan lainnya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu dan keluarga
  • Melakukan advokasi terhadap pilihan ibu dalam tatanan pelayanan
  1. Pelayanan Kebidanan

Pelayanan kebidanan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, yang diarahkan untuk mewujudkan kesehatan keluarga dalam rangka tercapainya keluarga kecil, bahagia dan sejahtera.

Pelayanan kebidanan merupakan layanan yang diberikan oleh bidan sesuai dengan kewenangan yang diberikannya dengan maksud meningkatkan kesehatan ibu dan anak dalam rangka tercapainya keluarga kecil, bahagia dan sejahtera.

Sasaran pelayanan kebidanan adalah individu, keluarga dan masyarakat yang meliputi upaya peningkatan, pencegahan, penyembuhan dan pemulihan.

Layanan kebidanan dapat dibedakan menjadi :

  1. Layanan kebidanan Primer ialah layanan bidan yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab bidan.
  2. Layanan kebidanan Kolaborasi adalah layanan kebidanan yang dilakukan oleh bidan sebagai anggota tim yang kegiatannya dilakukan secara bersama-sama atau sebagai salah satu urutan dari sebuah proses kegiatan pelayanan kesehatan.
  3. Layanan kebidanan Rujukan adalah layanan yang dilakukan oleh bidan dalam rangka rujukan ke sistem pelayanan yang lebih tinggi atau sebaliknya. Pelayanan yang dilakukan oleh bidan sewaktu menerima rujukan dari dukun yang menolong persalinan, juga layanan rujukan yang dilakukan oleh bidan ketempat/fasilitas pelayanan kesehatan lainnya secara horizontal maupun vertikal atau ke profesi kesehatan lainnya. Layanan kebidanan yang tepat akan meningkatkan keamanan dan kesejahteraan ibu serta bayinya.
  1. Keturunan

Kualitas manusia, diantaranya ditentukan oleh keturunan. Manusia yang sehat dilahirkan oleh ibu yang sehat. Hal ini menyangkut penyiapan wanita sebelum perkawinan, masa kehamilan, masa kelahiran dan masa nifas.

Walaupun kehamilan, kelahiran dan nifas adalah proses yang fisologis namun bila ditangani secara tidak akurat , keadaan fisologis akan menjadi patologis. Hal ini akan berpengaruh pada bayi yang akan dilahirkannya. Oleh karena itu layanan praperkawinan, kehamilan, kelahiran dan nifas adalah sangat penting dan mempunyai keterkaitan satu sama lain yang tak dapat dipisahkan.



FILOSOPI KEBIDANAN
Oktober 8, 2009, 1:57 am
Filed under: KONSEP KEBIDANAN

A. DEFINISI FILOSOFI

Filosofi berasal dari bahasa Yunani : philosophy yang berarti menyukai kearifan “sesuatu yang memberikan gambaran dan berperan sebagai tantangan untuk memahami dan menggunakan filosofi sebagai dasar untuk memberikan informasi dan meningkatkan praktek tradisional”.

1.Chinn dan Krammer, 1991

“Suatu disiplin ilmu yang memperhatikan dan menggali dalil-dalil yang ada untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari”

2. Pearson dan Vaugan, 1986

Garis besar filosofi adalah pendekatan berpikir tentang kenyataan, termasuk tradisi agama,aliran yang dianut oleh keberadaa dan fenomena.

Jadi filosofi diartikan sebagai ilmu tentang sesuatu disekitar kita dan apa penyebabnya.

Anggapan tentang filosofi :

  1. Elit

Hanya untuk golongan tertentu, bukan untuk konsumsi umum

  1. Sulit

Beberapa aspek dari filosofi sering dianggap sulit, kompleks dan berbelit-belit.

  1. Obscure

Dianggap sebagai hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan sehari-hari.

  1. Abstrak (tidak jelas)

Filosofi mencoba membangkitkan tingkat pengertian pada hal tertentu yang dapat dihindari. Bagaimana fakta bahwa banyak filosofi adalah abstrak tetapi tidak berarti bahwa hal tersebut tidk ada penerapan yang nyata.

B. TINJAUAN KEILMUAN

Setiap pengetahuan mempunyai tiga komponen yang merupakan tiang penyanggah tubuh pengetahuan yang disusun. Komponen tersebut adalah ontoilogi, efistemologi dan aksiologi.

Ontologi merupakan azas dalam menetapkan ruang lingkup ujud yang menjadi objek penelaahan (objek ontologi atau objek formal pengetahuan) dan penafsiran tentang hakekat realitas (metafisika) dari objek ontologis atau objek formal tersebut

Efistemologi merupakan azas mengenai cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi suatu tubuh pengetahuan.

Aksiologi merupakan azas dalam menggunakan pengetahuan yang diperoleh dan disusun dalam tubuh pengetahuan tersebut

  1. Pendekatan Ontologis

Secara ontologis ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuannya hanya berada pada daerah-daerah dalam jangkauan pengalaman manusia. Objek penelaahan yang berada dalam batas pra pengalaman( penciptaan manuasia) dan pasca pengalaman (surga dan neraka) diserahkan ilmunya kepengetahuan lain. Ilmu hanya merupakan salah satu pengetahuan dari sekian banyak pengetahuan yang mencoba menelaah kehidupan dalam batas-batas ontologis tertentu yaitu penemuan dan penyusunan pernyataan yang bersifat benar secara ilmiah.

Aspek kedua dari pendekatan ontologis adalah penafsiran hakekat realitas dari objek ontologis pengetahuan. Penafsiran metafisik keilmuan harus didasarkan pada karakteristik objek ontologis sebagaimana adanya dengan deduksi-deduksi yang dapat diverifikasi secara fisik yaitu suatu pernyataan dapat dapat diterima sebagai premis dalam argumentasi ilmiah setelah melalui pengkajian/penelitian berdasarkan efistemologis keilmuan.

  1. Pendekatan Efistemologis

Landasan efistemologis ilmu tercermin secara operasional dalam metode ilmiah. Pada dasarnya metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuannya berdasarkan ;

a). Kerangka pemikiran, yang bersifat logis dengan argumentasi yang bersifat konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun

b). Menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka pemikiran tersebut

c). Melakukan verifikasi terhadap hipotesis termaksud untuk menguji kebenaran pernyataan secara faktual. Secara akronim metode ilmiah terkenal sebagai logica-hypotetico-verifikatif atau deducto-hypotetico-verfikatif

Kerangka pemikiran yang bersifat logis adalah argumentasi yang bersifat rasional dalam mengembangkan penjelasan terhadap fenomena alam. Verfikasi secara empiris berarti evaluasi secara objektif dari suatu pernyataan hipotesis terhadap kenyataan faktual. Verifikasi ini menyatakan bahwa ilmu terbuka untuk kebenaran lain selain yang terkandung dalam hipotesis (mungkin fakta menolak pernyataan hipotesis). Kebenaran ilmiah dengan keterbukaan terhadap kebenaran baru mempunyai sifat pragmatis yang prosesnya secara berulang (siklus) berdasarkan berfikir kritis.

Disamping sikap moral yang secara implisit terkait dengan proses logico-hypotetico-verifikatif tersebut terdapat azas moral yang secara eksplisit merupakan yang bersifat seharusnya dalam efistemologis keilmuan. Azas tersebut menyatakan bahwa dalam proses kegiatan keilmuan, setiap upaya ilmiah harus ditujukan untuk menemukan kebenaran yang dilakukan dengan penuh kejujuran, tanpa mempunyai kepentingan langsung tertentu dan hak hidup yang berdasarkan argumentasi secara individual

c. Pendekatan aksiologis

Aksiologis keilmuan menyangkut nilai-nilai yang berkaitan dengan pengetahuan ilmiah baik secara internal, eksternal maupun sosial. Nilai internal berkaitan dengan wujud dan kegiatan ilmiah dalam memperoleh pengetahuan tanpa mengesampingkan fitrah manusia. Nilai eksternal menyangkut nilai-nilai yang berkaitan dengan penggunaan pengetahuan ilmiah. Nilai sosial menyangkut pandangan masyarakat yang menilai keberadaan suatu pengetahuan dan profesi tertentu. Oleh karena itu, kode etik profesi merupakan suatu persyaratan mutlak bagi keberadaan suatu profesi. Kode etik profesi ini pada hakekatnya bersumber dari nilai internal dan eksternal dari suatu disiplin keilmuan. Bangsa Indonesia berbahagia karena kebidanan sebagai suatu profesi dibidang kesehatan telah memiliki kode etik yang mutlak diaplikasikan kedalam praktek klinik kebidanan.

Pada dasarnya ilmu harus digunakan dan dimanfaatkan untuk keuntungan/berfaedah bagi manusia. Dalam hal ini ilmu dapat dimanfaatkan sebagai saran atau alat dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia dan kelestarian/keseimbangan alam. Untuk kepentiungan manusia tersebut maka pengetahuan ilmiah yang diperoleh dan disusun merupakan milik bersama, dimana setiap orang berhak memanfaatkan ilmu menurut kebutuhannya. Universal berarti ilmu tidak mempunyai konotasi parokial seperti ras, ideologi atau agama

  1. Tanggung jawab ilmuwan : Profesional dan Moral

Pendekatan ontologis, aksiologis dan efistemologis memberikan 18 azas moral yang terkait dengan kegiatan keilmuan. Keseluruhan azas moral ini pada hakekatnya dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu kelompk asas moral yang membentu tanggung jawab profesional dan kelompok tanggung jawab sosial

Tanggung jawab profesional ditujukan kepada masyarakat ilmuwan dalam mempertanggung jawabkan moral yang berkaitan dengan landasan efistemologis. Sedangkan tanggung jawab sosial yakni pertanggung jawaban ilmuwan terhadap masyarakat yang menyangkut azas moral mengenai pemilihan etis terhadap objek penelaahan keilmuwan dan penggunaan pengetahuan ilmiah.

C. Dimensi Kefilsafatan Ilmu Kebidanan

Keberadaan disiplin keilmuan kebidanan sama seperti keilmuan lainnya ditopang oleh berbagai disiplin keilmuan yang telah jauh berkembang, sehingga dalam perjalanan mulai dipertanyakan identitas dirinya sebagai satu disiplin keilmuan yang mandiri. Yang sering dipertanyakan pada pengetahuan kebidanan (Midwifery Knowledge) terutama berfokus kepada tubuh pengetahuan kebidanan untuk bereksistensi sebagai satu disiplin keilmuan yang mandiri. Lebih lanjut sering dipertanyakan adalah ciri-ciri atau karakteristik yang membedakan pengetahuan kebidanan dengan ilmu yang lain.

Berdasarkan komponen hakekat ilmu, maka setiap cabang pengetahuan dibedakan dari jenis pengetahuan lainnya berdasarkan apa yang diketahui(ontologi),bagaimana pengetahuan tersebut diperoleh dan disusu(efistemologi) serta nilai mana yang terkait dengan pengetahuan tersebut(aksiologi). Oleh karena serta itu pengetahuan ilmiah mempunyai landasan ontologi, efistemologi dan aksiologi yang spesifik bersifat ilmiah. Artinya suatu pengetahuan secara umum dikelompokkan sebagai pengetahuan ilmiah apabila dapat memenuhi persyaratan ontologi, efistemologi dan aksiologi keilmuan.

Dimensi kefilsafatan keilmuan secara lebih rinci dapat dibagi menjadi tiga tingkatan karakteristik, yaitu :

  1. Bersifat universal artinya berlaku untu seluruh disiplin yang bersifat keilmuan.
  2. Bersifat generik artinya mencirikan segolongan tertentu dari pengetahuan ilmiah
  3. Bersifat spesifik artinya memiliki ciri-ciri yang khas dari sebuah disiplin ilmu yang membedakannya dengan ilmu disiplin yang lain.

D. Tubuh Pengetahuan Kebidanan

Disiplin keilmuan kebidanan mempunyai karakteristik dan spesifikasi baik objek forma maupun objek materia. Objek forma disiplin keilmuwan kebidanan adalah cara pandang yang berfokus pada ojek penelaahan dalam batas ruang lingkup tertentu. Objek forma dari disiplin keilmuawan kebidanan adalah mempertahankan status kesehatan reproduksi termasuk kesejahteraan wanita sejak lahir sampai masa tuanya(late menopause) termasuk berbagai implikasi dalam siklus kehidupannya.

Objek materi disiplin keilmuwan kebidanan adalah substansi dari objek penelaahan dalam lingkup tertentu. Objek materia dalam disiplin keilmuwan adalah janin, bayi baru lahir, bayi dan anak bawah lima tahun (balita) dan wanita secara utuh/holistik dalam siklus kehidupannya (kanak-kanak, pra remaja, remaja, dewasa muda, dewasa, lansia dini dan lansia lanjut) yang berfokus kepada kesehatan reproduksi

Berdasarkan pikiran dasar, objek forma dan ojek materia, disusunlah tubuh pengetahuan kebidanan yang dikelompokkan menjadi empat :

  1. Ilmu Dasar ;
  • Anatomi
  • Psikologi
  • Mikrobiologi dan parasitologi
  • Patofisiologi
  • Fisika
  • Biokimia
  • Pancasila dan Wawasan Nusantara
  • Bahasa Indonesia
  • Bahasa Inggris
  • Sosiologi
  • Antropologi
  • Psikologi
  • Administrasi dan Kepemimpinan
  • Ilmu komunikasi
  • Humaniora
  • Pendidikan (prinsip belajar dan mengajar
  • Kedokteran
  • Pharmokologi
  • Efidemologi
  • Statistik
  • Teknik Kesehatan Dasar
  • Paradigma Sehat
  • Ilmu Gizi
  • Hukum Kesehatan
  • Kesehatan masyarakat
  • Metode riset
  • Dasar-dasar Kebidanan
  • Teori dam model konseptual kebidanan
  • Siklus kehidupan wanita
  • Etika dan kode etik kebidnan
  • Pengantar kebidanan profesional
  • Teknik dan prosedur kebidanan
  • Asuhan Kenbidanan dalam kaitan kesehatan reproduksi
  • Tingkat dan jenis pelayanan kebidanan
  • Legislasi kebidanan
  • Praktek klinik kebidanan
  1. Ilmu-ilmu sosial :
  1. Ilmu terapan :
  1. Ilmu Kebidanan

E. TUJUAN FILOSOFI KEBIDANAN

“Memberikan persepsi tentang hal-hal yang penting dan berharga dalam memfasilitasi proses penanggulangan teori dan praktek “

FILOSOFI KEBIDANAN

Dalam kehamilan terdapat konsep psikologis dan perubahan sosial untuk persiapan menjadi orang tua, terutama wanita, asuhan antenatal, memberikan dukungan dan petunjuk serta membantu mereka dalam persiapan menjadi orang tua.

Menurut ACNM ( 1996 ) :
1. Setiap individu mempunyai hak untuk meyakini bahwa setiap individu mempunyai hak untuk merasa aman, mendapatkan pelayanan kesehatan yang memuaskan dengan memperhatikan martabatnya.
2. Bidan meyakini bahwa kehamilan, persalinan merupakan proses yang normal
3. Asuhan kebidanan difokuskan kepada kebutuhan individu, keluarga untuk perawatan fisik, emosi dan hubungan sosial.
4.Klien ikut terlibat dalam menentukan pilihan.
5. Asuhan kebidanan berkesinambungan mengutamakan keamanan, kemampuan klinis dan tanpa intervensi pada proses yang normal.
6. Meningkatkan pendidikan pada wanita sepanjang siklus kehidupan
Menurut Maternity Services Advisory Commite, 1995 :
1.Dalam persalinan melibatkan partisipasi orang tua dan anggota keluarga dalam menentukan asuhan.
2. Pada masa postnatal setiap ibu harus diberi pedoman tentang perawatan bayi dan tenaga penolong.
3. Selama dirawat di RS, ayah dianjurkan utk terlibat dalam merawat bayinya.

8 prinsip dasar yang menggambarkan filosofi kebidanan

v Hubungan antara ibu dan bidan dalam memberikn asuhan yang baik.

v Ibu fokus dalam pemberian asuhan.

v Memberikan pilihan kepada ibu untuk melahirkan.

v Menggunakan seluruh keterampilan bidan.

v Asuhan yang berkesinambungan untuk wanita bersalin.

v Asuhan dasar dalam berkomunikasi.

v Bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan.

v Memberikan asuhan yang ramah pada ibu dan bayinya.

FILOSOFI ASUHAN KEBIDANAN

Prinsif dalam asuhan kebidanan meliputi :

– Memberikan keamanan pada klien (safety)

– Memperhatikan kepuasan klien ( satisfying )

– Menghormati martabat manusia dan diri sendiri ( self determination)

– Mengormati perbedaan kultur dan etnik (respecting cultural and etnic divercity)

– Berpusat pada kontek keluarga

– Berorientasi pada promosi keluarga

Yang diharapkan bidan dalam memberikan asuhan

l Disusun untuk kebutuhan ibu, bayi & keluarganya.

l Didukung dengan perhatian kepada otonomi individu.

l Merencanakan hubungan dengan ibu dan keluarganya.

l Wanita (keluarganya ) berhak secara penuh untuk menentukan dan memutuskan tentang rencana asuhan

l Mempertimbangkan kebutuhan pendidikan yang meliputi : fisik, psikologi, sosial, budaya, spritual dan pendidikan.

l Didasari pada penemuan yang sudah terbukti

l Memberitahu dengan penuh empati,konsekuensi, kepercayaan.

l Mempunyai asuhan pendekatan secara sistematis terhadap penilaian, perencanaan, implementasi dan evaluasi.

hMenyadarkan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan proses yang fisiologis
hMemastikan sistem komunikasi yan efektif antara bidan, wanita dan keluarga serta tenaga kesehatan yang lain
hMengakui pentingnya perawatan yang berkelanjutan dalam ilmu kebidanan

NILAI DAN KEPERCAYAAN KEBIDANAN
1. Respek terhadap individu dan kehidupannya
2. Fokus pada wanita dalam proses childbirth
3. Keterpaduan yang merefleksikan kejujuran dan prinsip moral
4. Keadilan dan kebenaran
5. Menerapkan proses dan prinsip demokrasi
6. Pengembangan diri di ambil dari pengalaman hidup dan prosespendidikan
7. Pendidikan kebidanan merupakan dasar dari praktik kebidanan

KEPERCAYAAN YANG HARUS DIPEGANG OLEH PROFESI KEBIDANAN
1. Setiap ibu adalah individu yang memiliki hak, kebutuhan, harapan dan keinginan.
2. Adanya profesi kebidanan mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi kondisi kkehamilan dan pelayanan yang diberikan pada wanita dan keluarganya pada proses persalinan
3. Kesehatan yang akan datang tergantung pada kualitas asuhan yang diberikan pada calon ibu, calon ayah dan bayi.
4. Ibu dan bayi membutuhkan sesuatu yang bernilai sesuai dengan kebutuhannya.

F. DEFINISI BIDAN

1. Berdasarkan terminologinya, Mid = dengan, wif = a woman = seorang wanita.

Midwife = wit a woman = seorang wanita

2. Definisi bidan secara internasional

Internasional Confideration of Midwives (ICM) dan the International Federation of Gynecologi and obstetric (FIGO) 1992 “ Bidan adalah seseorang yang telah diakui secara reguler dalam program pendidikan bidan, diakui oleh negara dimana dia ditempatkan, telah menyelesaikan pendidikan kebidanan dan mendapat kualifikasi untuk didaftarkan dan atau diizinkan secara hukum/sah untuk melaksanakan praktek”

3. Keppres No 23 tahun 1994 Pasal 1 butir 1 tentang pengangkatan bidan sebagai pegawai tidak tetap berbunyi :
“ Bidan adalah seseorang yang telah mengikuti Program Pendidikan Bidan dan telah lulus ujian sesuai dengan persyaratan yang berlaku”
4. KepMenKes No 822/MenKes/SK/IX/1993 pasal 1 butir 1 tentang penyelenggaraan Program Pendidikan Bidan berbunyi
“ Bidan adalah seseorang yang telah mengikuti dan lulus Program Pendidikan Bidan sesuai dengan persyaratan yang berlaku”
5. Lampiran KepMenKes No 871/MenKes/SK/VIII/1994 tentang petunjuk teknis pelaksanaan pengangkatan bidan sebagai pegawai tidak tetap, pada pendahuluan butir c dan pengertian organisasi :
“ Bidan adalah seseorang yang telah mengikuti dan lulus Program Pendidikan Bidan dan telah lulus ujian sesuai dengan persyaratan yang berlaku”

6. PerMenKes No 572/MenKes/Per/VI/1996 pasal 1 ayat 1 tentang registrasi dan praktek bidan yang berbunyi :
“ Bidan adalah seseorang wanita yang telah mengikuti dan menyelesaikan pendidikan bidan yang telah diakui pemerintah dan telah lulus ujian sesuai dengan persyaratan yang berlaku”
7). KepMenKes RI No.900/MenKes/SK/2000 tentang registrasi dan praktek bidan, pada pasal 1 ayat 1 yang berbunyi :
“ Bidan adalah seseorang wanita yang telah mengikuti dan lulus program pendidikan bidan dan telah lulus ujian sesuai dengan persyaratan yang berlaku”

G. PELAYANAN DAN PENDEKATAN DALAM PRAKTEK KEBIDANAN

1. Pelayanan Kebidanan primer, yaitu pelayanan kebidanan yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab bidan, diantaranya :

n Bidan berpegangan pada keyakinanan informasi klien untuk melindungi hak akan privasi dan menggunakan keadilan dalam hal saling berbagi informasi

n Bidan bertanggung jawab dalam keputusan dan tindakannya dan bertanggung jawab untuk hasil yang berhubungan dengan asuhan yang diberikan pada wanita.

n Bidan bisa menolak ikut serta dalam kegiatan yang berlawanan dengan moral yang dipegang, akan tetapi tekanan pada hati nurani individu seharusnya tidak menghilangkan pelayanan pada wanita yang essinsial

n Bidan memahami konsekuensi yang merugikan dalam pelanggaran kode etik dan akan bekerjasama untuk mengurangi pelanggaran ini

n Bidan berperan serta dalam mengembangkan dan menerapkan kebijaksanaan dalam bidang kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan semua wanita dan pasangan usia subur (Revisi Mei 1999)

2. Pelayanan kebidanan Kolaborasi adalah layanan yang dilakukan oleh bidan sebagai anggota tim yang kegiatannya dilakukan secara bersamaan atau sebagai salah satu urutan dari sebuah proses kegiatan pelayanan kesehatan

3. Pelayanan Kebidanan Rujukan adalah layanan yang dilakukan oleh bidan dalam rangka rujukan ke sistem pelayanan yang lebih tinggi atau sebaliknya, yaitu pelayanan yang dilakukan oleh bidan sewaktu menerima rujukan dari dukun yang menolong persalinan, juga layanan rujukan yang dilakukan oleh bidan ketempat atau fasilitas pelayanan kesehatan lain secara horisontal maupun vertikal.



TANDA BAHAYA KALA I
Oktober 7, 2009, 4:57 am
Filed under: ASKEB II

Tanda Bahaya Kala I dan Manajemennya

A. Kala I

Persalinan adalah proses dimana bayi. Plasenta dan selaput ketuban keluar dari rahim ibu. Bersalin dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan tanpa disertai adanya penyulit. Persalinan dimulai bila terdapat :

Penipisan dan pembukaan serviks

Kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan pada serviks

Keluar lendir darah.

Persalinan ini terdiri dari kala I, II, III dan IV.

Kala I persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan pembukaan serviks hingga mencapai pembukaan lengkap (10 cm) kala ini terjadi dari 2 fase yaitu :

1) Fase laten

– Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks secara bertahap.

– Pembukaan serviks kurang dari 4 cm.

– Berlangsung selama + 8 jam dan sangat lambat.

2) Fase aktif

Dibagi dalam 3 fase :

a. Fase akselerasi : dalam waktu 2 jam pembukaan yang kurang dari 4 cm tadi berubah menjadi 4 cm.

b. Fase dilatasi maksimal : dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat dari 4 cm menjadi 9 cm.

c. Fase deselarasi : pembukaan lambat karena dalam 2 jam pembukaan dari 9 cm menjadi lengkap.

Pada fase aktif frekuensi dan lama kontraksi uterus umumnya meningkat (kontraksi adekuat atau memadai jika terjadi 3x atau lebih per 10 menit dan berlangsung selama 40 detik atau lebih serta terjadi penurunan terbawah janin).

B. Tanda bahaya kala I dan manajemennya

Tabel 2.1. Indikasi-indikasi untuk tindakan dan / atau rujukan segera

selama kala I persalinan.

Temuan-temuan anamnesis dan/atau pemeriksaan

Rencana untuk asuhan atau perawatan

Riwayat bedah sesar 1. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang mempunyai kemampuan untuk melakukan bedah sesar.

2. Dampingi ibu ke tempat rujukan. Berilah dukungan dan semangat.

Perdarahan pervaginam selain dari lendir bercampur darah (show) Jangan melakukan pemeriksaan dalam

1. Baringkan ibu ke sisi kiri

2. Pasang infus menggunakan jarum berdiameter besar (ukuran 16 atau 18) dan berikan ringer loktat atau cairan garam fisiologis (NS)

3. Segera rujuk ke fasilitas yang memiliki kemampuan untuk melakukan bedah sesar.

4. Dampingi ibu ke tempat rujukan.

Kurang dari 37 minggu (persalinan kurang bulan) 1. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan kegawatdaruratan obstetric dan BBL.

2. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan serta semangat.

Ketuban pecah disertai dengan keluarnya mekonium kental 1. Baringkan ibu ke sisi kiri

2. Dengarkan DJJ

3. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan untuk melakukan bedah sesar.

4. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan bawa partus set, kateter penghisap lendir delle dan handuk/kain untuk mengeringkan dan menyelimuti bayi kalau ibu melahirkan di jalan.

Ketuban pecah bercampur dengan sedikit mekonium disertai tanda-tanda gawat janin 1. Dengarkan DJJ, jika ada tanda-tanda gawat janin laksanakan asuhan yang sesuai (lihat di bawah)
Ketuban telah pecah (lebih dari 24 jam) atau ketuban pecah pada kehamilan kurang bulan (usia kehamilan kurang dari 37 minggu) 1. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan melakukan asuhan kegawat daruratan obstetric.

2. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan serta semangat.

Tanda-tanda atau gejala-gejala infeksi :

– Temperatur tubuh

– Menggigil

– Nyeri abdomen

– Cairan ketuban yang berbau

1. Baringkan ibu miring kekiri

2. Pasang infus menggunakan jarum berdiameter besar (ukuran 16 atau 18) dan berikan ringer loktat atau cairan garam fisiologis (NS) dengan tetesan 125 ml/jam.

3. Segera rujuk ke fasilitas yang memiliki kemampuan untuk melakukan bedah sesar.

4. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan serta semangat.

Tekanan darah lebih dari 160/ 110 dan/atau terdapat protein dalam urine (preeklamsia berat) 1. Baringkan ibu miring kekiri

2. Pasang infus menggunakan jarum berdiameter besar (ukuran 16 atau 18) dan berikan ringer loktat atau cairan garam fisiologis (NS)

3. Jika mungkin berikan dosis awal 4 g MgSO4 20% IV selama 20 menit.

4. Suntikan 10 g MgSO4 50% 15 g IM pada bokong kiri dan kanan.

5. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kapabilitas asuhan kegawat daruratan obstetric dan BBL.

6. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan serta semangat.

Tinggi fundus 40 cm atau lebih (makrosomia, polihidramniofis, kehamilan ganda 1. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan untuk melakukan bedah sesar.

2. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan semangat dan dukungan.

Alasan :

Jika diagnosisnya adalah polihidramnion, mungkin ada masalah-masalah dengan janinnya. Dengan adanya makrosomia risiko distosia bahu dan perdarahan pasca persalinan atau lebih besar.

DJJ kurang dari 100 atau lebih dari 180 kali/menit pada 2 x penilaian dengan jarak 5 menit (gawat janin) 1. Baringkan ibu miring ke kiri, dan anjurkan untuk bernapas secara teratur.

2. Pasang infus menggunakan jarum berdiameter besar (ukuran 16 atau 18) dan berikan renger laktat atau cairan garam fisiologis (NS) dengan tetesan 125 ml/jam.

3. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan kegawat daruratan obstetri dan BBL.

4. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan dan semangat.

Primipara dalam persalinan fase aktif dengan palpasi kepala janin masih 5/5 1. Baringkan ibu miring ke kiri

2. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan pembedahan bedah sesar

3. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan dan semangat.

Presentasi bukan belakang kepala (sungsang, letak lintang, dll) 1. Baringkan ibu miring ke kiri.

2. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan kegawat daruratan obstetri dan BBL.

3. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan dan semangat.

Presentasi ganda (majemuk) (adanya bagian janin, seperti misalnya lengan atau tangan, bersamaan dengan presentasi belakang kepala) 1. Baringkan ibu dengan posisi lutut menempel ke dada atau miring ke kiri.

2. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan kegawat daruratan obstetri dan BBL.

3. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan dan semangat.

Tali pusat menumbung (jika tali pusat masih berdenyut) 1. Gunakan sarung tangan disinfeksi tingkat, letakan satu tangan divagina dan jauhkan kepala janin dari tali pusat janin. Gunakan tangan yang lain pada abdomen untuk membantu menggeser bayi dan menolong bagian terbawah bayi tidak menekan tali pusatnya. (keluarga mungkin dapat membantu).

2. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan kegawat daruratan obstetric dan BBL.

3. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan semangat serta dukungan

ATAU

1. Minta ibu untuk melakukan posisi bersujud dimana posisi bokong tinggi melebih kepala ibu, hingga tiba ke tempat rujukan.

2. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan kegawatdaruratan obstetric dan BBL.

3. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan semangat serta dukungan.

Tanda-tanda gejala syok :

  • Nadi cepat, lemah (lebih dari 110 kali/menit)
  • Tekanan darahnya rendah (sistolik kurang dari 90 mm Hg
  • Pucat
  • Berkeringat atau kulit lembab, dingin.
  • Napas cepat (lebih dari 30 x/menit)
  • Cemas, bingung atau tidak sadar
  • Produksi urin sedikit (kurang dari 30 ml/jam)
1. Baringkan ibu miring ke kiri

2. Jika mungkin naikkan kedua kaki ibu untuk meningkatkan aliran darah ke jantung.

3. Pasang infus menggunakan jarum berdiameter besar (ukuran 16 atau 18) dan berikan RL atau cairan garam fisiologis (NS), infuskan 1 liter dalam waktu 15 – 20 menit, jika mungkin infuskan 2 liter dalam waktu 1 jam pertama, kemudian turunkan tetesan menjadi 125 m/jam.

4. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan kegawat daruratan obstetri dan BBL.

5. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan dan semangat.

Tanda-tanda gejala persalinan dengan fase laten yang memanjang.

  • Pembukaan serviks kurang dari 4 cm setelah 8 jam.
  • Kontraksi teratur lebih dari 2 dalam 10 menit)
1. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kapasitas kegawatdaruratan obstetri dan BBL.

2. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan serta semangat.

Tanda dan gejala belum inpartu

  • Kurang dari 2 kontraksi dalam 10 menit, berlangsung kurang dari 20 detik
  • Tidak ada perubahan serviks dalam waktu 1 – 2 jam.
1. Anjurkan ibu untuk minum dan makan.

2. Anjurkan ibu untuk bergerak bebas dan leluasa.

3. Jika kontraksi berhenti dan/atau tidak ada perubahan serviks, evaluasi djj, jika tidak ada tanda-tanda kegawatan pada ibu dan janin. Persilahkan ibu pulang dengan nasehat untuk :

  • Menjaga cukup makan dan minum
  • Datang untuk mendapatkan asuhan jika terjadi peningkatan frekuensi dan lama kontraksi.
Tanda dan gejala partus lama

  • Pembukaan serviks mengarah kesebelah kanan garis waspada (partograp)
  • Pembukaan serviks kurang dari 1 cm perjam
  • Kurang dari 2 kontraksi dalam waktu 10 menit, masing-masing berlangsung kurang dari 40 detik.
1. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan kegawatdaruratan obstetric dan BBL.

2. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan semangat serta dukungan.

2.2. Pendokumentasian Kala I

2.2.1. Hal-hal yang perlu di dokumentasikan

Pendokumentasian dapat dilakukan dengan menggunakan hasil temuan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik.

A. Anamnesis

1. Nama, umur dan alamat

2. Gravida dan para

3. HPHT

4. Tapsiran persalinan

5. Alergi obat-obatan

6. Riwayat kehamilan, sekarang dan sebelumnya

7. Riwayat medis lainnya.

8. Masalah medis saat ini, dll.

B. Pemeriksaan fisik

1. Pemeriksaan abdomen

– Menentukan TFU

– Memantau kontraksi uterus

– Memantau DJJ

– Memantau presentasi

– Memantau penurunan bagian terbawah janin

2. Pemeriksaan dalam

– Menilai cairan vagina

– Memeriksa genetalia externa

– Menilai penurunan janin

– Menilai penyusupan tulang kepala

– Menilai kepala janin apakah sesuai dengan diameter jalan lahir

– Jangan melakukan pemeriksaan dalam jika ada perdarahan pervaginam.

2.2.2. Format pendokumentasian kala I

Digunakan SOAP untuk mendokumentasikannya.

S : Subjektif

Menggambarkan hasil pendokumentasian anamnesis.

O : Objektif

Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil dari pemeriksaan laboratorium dan tes diagnostic lain yang dirumuskan dalam data focus untuk mendukung asuhan sebagai langkah I varney.

A : Assesment

Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interpretasi data objektif dalam identifikasi yang meliputi :

1. Diagnosa atau masalah

2. Antisipasi diagnosa atau masalah potensial

3. Perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter, konsultasi, kolaborasi dan atau rujukan sebagai langkah II, III dan IV varney.

P : Planning

Menggambarkan pendokumentasian dari perencanaan pelaksanaan tindakan dan evaluasi berdasarkan assessment sebagai langkah V, VI dan VII varney.



PERUBAHAN PSIKOLOGIS BULIN
Oktober 7, 2009, 4:46 am
Filed under: Uncategorized

PERUBAHAN FISIOLOGIS DAN PSIKOLOGIS

SERTA KEBUTUHAN DASAR PADA KALA II PERSALINAN

I. Definisi dan Perubahan Fisiologis Kala II

Kala II Persalinan di sebut juga kala pengeluaran yang merupakan peristiwa terpenting dalam proses persalinan karena objek yang di keluarkan adalah objek utama yaitu bayi.

Perubahan fisiologis yang terjadi pada kala II persalinan :

1. His menjadi lebih kuat dan sering

– Air ketuban yang telah keluar membuat dinding uterus menjadi lebih dekat dengan fetus, sehingga kekuatan konhaksi lebih intensif untuk mendorong keluarnva fetus.

– Vagina yang meregang karena turunnya kepala bayi akan membuat kontraksi jadi lebih baik

2. Timbulnya tenaga mengedan

– His yang sering dan kuat di sebabkan oleh kontraksi otot dinding perut yang mengakibatkan tingginya tekanan intra abdominal sehingga kepala bayi menekan otot dasar panggul dan secara refleks menimbulkan rasa mengedan. Bila bagian terdepan bayi sudah berada di dasar panggul, maka tenaga mengedan bukan sebagai refleks saja, tapi juga merupakan tenaga untuk mengeluarkan bayi di mana tenaga mengedan harus bekerja lama dengan his.

3. Perubahan dalam dasar panggul

– Perubahan letak kandung kemih, kandung kemih akan naik kearah rongga perut agar tidak mendapatkan tekanan kepala bayi, inilah pentingnya pengosongan kandung kemih agar jalan lahir lebih luas, dan kepala bayi dapat lewat.

– Perubahan pada rektum, dengan adanya kepala bayi di dasar panggul, maka dasar panggul bagian belakang akan terdorong ke bawah sehingga rektum tertekan oleh kepala bayi.

– Adanya tekanan kepala bayi membuat perineum menjadi tipis dan mengembang atau menonjol.

4. Lahirnya Fetus

– Di mulai dengan tampaknya kepala anak di vulva, dengan kontraksi uterus dan sedikit mengedan, secara bertahap kepala bayi dapat keluar.

– Lalu di ikuti pengeluaran bahu bersama cairan ketuban yang tertinggal, yang membantu melicinkan jalan lahir lalu di ikuti pengeluaran seluruh badan.

Dengan adanya perubahan fisiologis tersebut, maka nampaknya gejala yang dapat di lihat yang biasa di sebut tanda – tanda Kala II adalah sebagai berikut :

1. Adanya pembukaan lengkap (tidak teraba lagi bibir porsio), ini terjadi karena adanya dorongan bagian terbawah janin yang masuk kedalam dasar panggul karena kontraksi uterus yang kuat sehingga porsio membuka secara perlahan.

2. His yang lebih sering dan kuat (+ 2 – 3 menit 1 kali) dan timbul rasa mengedan, karena biasanya dalam hal ini bagian terbawah janin masuk ke dasar panggul sehingga terjadi tekanan pada otot – otot dasar panggul, yang secara reflektoris menimbulkan rasa mengedan.

3. Ada pengeluaran darah bercampur lendir, di sebabkan oleh adanya robekan dari serviks yang meregang.

4. Pecahnya kantung ketuban, karena kontraksi hat menyebabkan terjadinya perbedaan tekanan yang besar antara tekanan di dalam uterus dan di luar uterus sehingga kantung ketuban tidak dapat menahan tekanan isi uterus akhirnya kantung ketuban pecah.

5. Anus terbuka, karena bagian terbawah janin masuk dasar panggul sehingga menekan rektum dan rasa buang air besar, hal inilah yang menyebabkan anus terbuka.

6. Vulva terbuka, perineum menonjol, karena bagian terbawah janin yang sudah masuk PBP dan di tambah pula dengan adanya his serta kekuatan mengedan menyebabkan vulva terbuka dan perineum menonjol, karena perineum bersifat elastis.

7. Bagian terdepan anak kelihatan pada vulva, karena labia membuka, perineum menonjol menyebabkan bagian terbawah janin terlihat di vulva, karena ada his dan tenaga mengedan menyebabkan bagian terbawah janin dapat di lahirkan.

Diagnosis Ka1a II Persalinan dapat di tegakkan atas dasar hasil pemeriksaan yang menunjukkan :

1. Pembukaan serviks telah lengkap

2. Terlihat bagian kepala bayi pada vulva

Waktu yang diperlukan untuk pengeluaran bayi pada Kala II Persalinan :

– Pada primigravida : 1,5 Jam

– Pada multigravida : 0,5 Jam

II. Perubahan Psikologis Ibu Pada Kala II Persalinan

Adapun perubahan psikologis yang terjadi pada ibu dalam kala II ::

1. Bahagia

Karena saat – saat yang telah lama di tunggu akhirnya datang juga yaitu kelahiran bayinya dan ia merasa bahagia karena merasa sudah menjadi wanita yang sempurna (bisa melahirkan, memberikan anak untuk suami dan memberikan anggota keluarga yang baru), bahagia karena bisa melihat anaknya.

2. Cemas dan Takut

– Cemas dan takut kalau terjadi bahaya atas dirinya saat persalinan karena persalinan di anggap sebagai suatu keadaan antara hidup dan mati

– Cemas dan takut karena pengalaman yang lalu.

– Takut tidak dapat memenuhi kebutuhan anaknya

Jalan yang bisa di tempuh untuk mengatasi hal ini :

1. Dari diri sendiri (ibu)

Mempersiapkan semuanya dengan baik (sejak awal kehamilan memang sudah di rencanakan baik fisik maupun mental)

2. Dari orang lain

– Mengurangi ketegangan (mengajak bicara atau bercanda)

– Meyakinkan bahwa hal ini merupakn suatu hal yang normal

– Memberi bantuan moril (dengan mempersilahkan suami untuk mendampingi ibu)

– Selalu membimbing ibu di saat kesakitan

– Memberikan semangat kepada ibu dan meyakinkan bahwa semua akan baik – baik saja dan akan cepat berlalu

– Menambah kekuatan ibu (dengan mempersilahkan ibu untuk minum disela – sela istirahatnya setelah mengedan)

III. Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin pada Kala II

Dalam kala I persalinan, semua wanita akan melalui tahap yang paling melelahkan bahkan dapat mengancam jiwanya, sehingga untuk meminimalkan keadaan tersebut, ada beberapa hal yang harus di persiapkan ibu dan keluarga.

Adapam kebutulian dasar ibu bersalin adalah sebagai berikut :

1. Persiapan penolong persalinan

Dalam menolong persalinan, penolong harus selalu menerapkan upaya untuk mencegah infeksi yang dianjurkan. Pencegahan infeksi di antaranya dengan :

a. Cuci tangan

Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan, dengan menggunakan sabun dan di bawah air mengalir. Cuci tangan merupakan teknik pencegahan infeksi yang paling sederhana.

b. Sarung tangan

Sarung tangan steril di pakai setiap kali melakukan pemeriksaan dalam, membantu kelahiran bayi dan lain – lain. Sarung tangan harus segera di ganti dan jangan di gunakan lagi jika sarung tangan berlobang.

c. Perlengkapan perlindungan pribadi

Menggunakan celemek yang bersih dan penutup kepala atau mengikat rambut pada saat akan menolong persalinan.

2. Persiapan tepat persalinan, peralatan dan bahan

Ruang untuk persalinan harus memiliki sistem pencahayaan atau penerangan yang cukup, baik jendela maupun lampu. Persalinan dapat di lakukan di tempat tidur dengan kain tebal yang bersih atau kasur di lantai dengan kain lapis yang bersih. Harus tersedia meja atau permukaan yang bersih dan mudah dijangkau untuk meletakkan peralatan.

3. Persiapan tempat dan lingkungan untuk kelahiran bayi

Siapkan lingkungan yang sesuai untuk kelahiran bayi dengan memastikan ruangan bersih dan bebas dari tiupan angin. Sediakan peralatan untuk bayi seperti selimut, kain atau handuk kering, pakaian bayi yang bersih untuk mengeringkan dan menyelimuti bayi serta peralatan seperti bedak, sabun, baby oil dan lain -lain.

4. Kenyamanan

Dalam persalinan anjurkan ibu tmtuk berbaring dalam posisi yang di anggap ibu paling nyaman. Adapun beberapa posisi yang dapat di gunakan rmtuk mengedan yaitu :

a. Posisi duduk atau setengah duduk

Adalah posisi yang paling nyaman dan memudahkan bidan untuk membimbing keluarnya kepala bayi dan mengawasi perineum

b. Posisi berlutut atau menungging

Adalah posisi yang cocok untuk ibu yang merasa sakit di punggungnya. Posisi ini bisa membantu bayi yang kesulitan berputar (rotasi).

c. Posisi jongkok atau berdiri

Dapat membantu meneran kepala bayi bila persalinan berjalan lambat atau ibu sudah tidak mampu mengedan.

d. Posisi berbaring pada sisi kiri (menyamping)

Adalah posisi yang nyaman untuk membantu ibu agar tidak mengedan bila ibu ingin mengedan sebelum pembukaan lengkap.

Anjurkan juga ibu untuk berjalan dan bergerak aktif, duduk atau berjongkok akan membantu bayi turun kepanggul.

5. Cairan

Anjurkan ibu untuk minum selain persalinan, cairan akan memberi energi dan mencegah dehidrasi yang dapat mempengaruhi kontraksi uterus.

6. Pengosongan kandung kemih

Ibu bersalin harus buang air kecil setidaknya tiap 2 jam atau lebih sering bila memungkinkan. Kandung kemih yang penuh dapat menghalangi kontraksi dan penurunan kepala bayi. Hal ini akan menambah rasa sakit dan rasa tidak nyaman pada ibu.

7. Buang air besar

Ibu sebaiknya buang air besar sebelum memulai persalinan bila memungkinkan. Rektum yang penuh membuat ketidaknyamanan pada ibu

8. Membersihkan perineum ibu

Bertujuan untuk pencegahan infeksi. Bersihkan dengan air matang, dan gulungan kapas atau kasa yang bersih. Bila tersedia boleh di gunakan larutan antiseptik

9. Bantuan moril

a. Menganjurkan keluarga untuk mendampingi ibu selama persalinan dan kelahiran

b. Memberikan dukungan dan semangat pada ibu dan anggota keluarganya. Memberikan penjelasan pada ibu dan keluarga tentang proses kelahiran dan kemajuan persalinan. Perhatian dan pengertian bidan akan pentingnya persalinan akan menentramkan mereka

c. Memberikan bimbingan dan bantuan jika memang di perlukan

IV. Mengejan

Ketika serviks sudah pembukaan lengkap, ibu biasanya akan merasa ingin mengejan sewaktu kepala bayi mulai bergerak turun ke jalan lahir.

Posisi duduk atau setengah dudukadalah posisi paling nyaman, dan memudahKan bidan membimbing keluarnya kepala bayi dan mengawasi perineum

a. Bantu ibu untuk mendapatkan posisi yang baik untuk mengejan. Posisi berikut memiliki keutungan khusus :

Posisi berlutut (manungging) Adalah posisi yang baik bila ibu merasa sakit dipunggungnya. Posisi ini juga bisa membantu bila bayi mengalami kesulitan berputar (rotasi)..
Posisi jongkok atau berdiri Dapat membantu menurunkan kepala bayi bila persalinan berjalan dengan lambat atau ibu sudah tidak mampu untuk mengejan.
Posisi berbaring pada sisi kiri Adalah posisi yang nyaman. Posisi ini membantu ibu untuk tidak mangejan bila ibu ingin mengejan sebelum pembukaan lengkap.


Hello world!
September 2, 2009, 7:41 am
Filed under: Uncategorized

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!